Sabtu, 02 April 2016

Mereka bilang jalan neraka

          Pagi hari saya pergi ke bengkel motor buat ganti oli. Setelah sarapan, saya berambisi menuju pantai pink karena saya merasa biasa aja melihat pasir putih. Saya cari di internet pantai pink di Indonesia ada di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan di Lombok Tenggara. Lalu saya tanya sepupu, dia ga tau jalannya, belum pernah kesana katanya.
              Kali ini ga mulus langsung sampai tempat tujuan, tadinya saya sudah yakin dan bilang ke Raja:

“Kita harusnya belok kanan tadi, kan arahnya ke Lombok Tenggara”
“Udah lurus aja, liat ada apa”, katanya.
Saya menduga kok sudah terlihat laut, kayanya pelabuhan. Ternyata benar disana pelabuhan menuju ke Sumbawa. Akhirnya kami memutar balik dan berbelok kiri pada belokan kanan yang saya duga sebelumnya.
Jalanan lengang
            Tadinya sempat ragu-ragu saya mana pantainya, daritadi jalan berbatu, gersang, panas, kanan-kiri jalan yang terlihat pohon yang kekeringan, tidak ada daun pada ranting-ranting kering tersebut. Entah sudah berapa kilometer pemandangan sepanjang jalan begitu terus, hanya sesekali terlihat motor yang dari arah berlawanan, itu pun karena sedikit jumlah motor yang lewat bisa dihitung dengan jari.

Jalanan berbatu yang bikin dehidrasi

             Ketika terlihat plang pantai pink Tangsi menunjukkan berbelok ke kiri, jalanan menurun berbatu telah menanti. Sepasang turis asing sedang berkejaran, tampak sedikit perahu berada di bibir pantai, sisanya hanya cuaca terik panas menyengat dan sesekali angin berhembus yang menyambut kedatangan kami. Sedikit kecewa hal yang ingin aku lihat justru tidak ada, mana pasir berwarna pink, hanya warna coklat sama seperti pasir di pantai-pantai lain yang pernah saya lihat, tentunya berbeda dengan pasir di pantai Lombok yang mayoritas pasir putih. Raja mencoba menghibur dengan mengatakan bahwa ada sedikit tuh terlihat warna pinknya, saya mengiyakan saja, padahal mana ga ada, jelas-jelas warna coklat.
“Masih mau kesini lagi?” Raja meledek saya.
“Ga ah, jalan kesini berbatu, panas, sampai sini malah ga ada pasir pink. Malah terlihat warna coklat.”
Perahu di bibir pantai

Mana pasir berwarna pink?
            Tidak lama kami disana, pas pulang sempat memutar balik arah motor karena saya melihat plang penunjuk pantai Surga, langsung saya bilang ke Raja supaya kita kesana. Setelah mengikuti jalan setapak, motor saya berhasil sampai atas.
View yang terlihat jika menengok kanan
            Angin yang kencang tiada henti dari laut berhasil menyejukkan cuaca yang cukup panas. Tiada seorangpun yang hadir disini, tapi pas pulang ada 3 motor yang melintas dari arah berlawanan dan semuanya turis mancanegara.







          






     
Motor bebek yang kami tunggangi

         Perjalanan pulang melewati Praya, ada Bandara International Lombok (BIL), terlihat dari kejauhan ada satu pesawat yang tampahknya sedang bersiap-siap hendak take off.
             Sampai rumah, sudah malam dan saya bercerita ga ada pasir pink, warna coklat tadi. Ternyata kata sepupu saya, dia browsing internet, pasir pink kelihatan pas pagi atau sore hari. Ooo begitu, pantes saja kami kurang beruntung tadi siang.

Tidak ada komentar: