![]() |
| Panjang jembatan ini lebih dari 5 kilometer |
Sebelum ke Madura, tentu saja kami sempat merasakan
suasana jalan di ibukota provinsi Jawa Timur. Kota Surabaya termasuk kota
besar, smart city.
Jalanan disana padat, panas, banyak pohon di
pembatas jalan, banyak mall. Jika ingin menyebrang jalan, ada tombol di tiang
pinggir yang dapat ditekan supaya lampu menyala sehingga mobil berhenti, tentu
saja ini memudahkan pejalan kaki.
Sebenarnya
menuju jembatan Suramadu sangat mudah dengan GPS, namun Raja kesal dengan
alasan bingung ga tau arahnya, ga jelas, padahal daritadi saya memberi arah
yang benar. Akhirnya dia turun dari motor. Saya masih ingat kejadian ini di
Jln. Bongkaran, cuaca panas, banyak truk menurunkan muatannya, dia menyuruh
saya supaya mengendarai motor. Saya sudah hafal dimana harus belok sehingga
tentu saja lancar dan tidak tersesat.
Waktu itu harus bayar Rp 3.000 jika lewat jembatan
tersebut naik motor, saya dengar berita, sekarang sudah tidak perlu bayar.
CMIIW.
Angin bertiup sangat kencang dari sebelah kiri.
Walaupun ada rambu batas kecepatan maksimum 40 km/jam bagi motor, masih banyak yang
mengemudikan 70 km/jam. Tentu saja saya menjaga konstan laju motor 40 km/jam.
Meskipun
Madura terkenal dengan sate Madura, tapi kami malah tidak makan sate disana,
makan siang kala itu nasi dan bebek kukus, sedangkan Raja memesan nasi dan
bebek bakar.![]() |
| Dua porsi makan siang itu Raja yang bayar, terima kasih, ja. |
Oh iya, saya dapat info dari pelayan disana kalau bebek kukus itu rendah kolesterol, jadi saya langsung memilih itu dan ternyata teksturnya jadi empuk, pokoknya enak soalnya saya makan gratis, ditraktir. Haha


Tidak ada komentar:
Posting Komentar