Kamis, 14 April 2016

Singgah di kota yang terkenal dengan sate

          Pergi ke Madura sebenarnya tidak masuk rencana karena hanya bermula dari keinginan saya melewati jembatan terpanjang di Indonesia, yakni jembatan Suramadu. Mumpung lagi di Surabaya, mengapa tidak sekalian lewat jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura, pikirku.

Panjang jembatan ini lebih dari 5 kilometer


     Sebelum ke Madura, tentu saja kami sempat merasakan suasana jalan di ibukota provinsi Jawa Timur. Kota Surabaya termasuk kota besar, smart city.
     Jalanan disana padat, panas, banyak pohon di pembatas jalan, banyak mall. Jika ingin menyebrang jalan, ada tombol di tiang pinggir yang dapat ditekan supaya lampu menyala sehingga mobil berhenti, tentu saja ini memudahkan pejalan kaki.
     Sebenarnya menuju jembatan Suramadu sangat mudah dengan GPS, namun Raja kesal dengan alasan bingung ga tau arahnya, ga jelas, padahal daritadi saya memberi arah yang benar. Akhirnya dia turun dari motor. Saya masih ingat kejadian ini di Jln. Bongkaran, cuaca panas, banyak truk menurunkan muatannya, dia menyuruh saya supaya mengendarai motor. Saya sudah hafal dimana harus belok sehingga tentu saja lancar dan tidak tersesat.
Waktu itu harus bayar Rp 3.000 jika lewat jembatan tersebut naik motor, saya dengar berita, sekarang sudah tidak perlu bayar. CMIIW.
       Angin bertiup sangat kencang dari sebelah kiri. Walaupun ada rambu batas kecepatan maksimum 40 km/jam bagi motor, masih banyak yang mengemudikan 70 km/jam. Tentu saja saya menjaga konstan laju motor 40 km/jam.
      Meskipun Madura terkenal dengan sate Madura, tapi kami malah tidak makan sate disana, makan siang kala itu nasi dan bebek kukus, sedangkan Raja memesan nasi dan bebek bakar.
Dua porsi makan siang itu Raja yang bayar, terima kasih, ja.

       Oh iya, saya dapat info dari pelayan disana kalau bebek kukus itu rendah kolesterol, jadi saya langsung memilih itu dan ternyata teksturnya jadi empuk, pokoknya enak soalnya saya makan gratis, ditraktir. Haha

Tidak ada komentar: