Apa nih 7 hari? Naik
motor kemana? Pertanyaan yang mungkin saja ada di benak pembaca yang nyasar ke
blog saya. Kalau penasaran sih seharusnya Anda terus membaca, sampai habis
(kalau perlu).
Maksud
kata Hanya yang tanda kutip itu bagi saya bermakna kejadian
ini yaitu berkendara sepeda motor terlama yang pernah saya alami, ya meskipun
belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman orang-orang yang sampai
keliling dunia menunggangi sepeda motor, makanya saya memakai kata hanya pada
kalimat judul.
Sekitar 1,5 jam tahun yang lalu, April 2014, aku mengajak seorang Raja, ya nama di kartu
identitasnya memang Raja Kombih, jadi panggilannya Raja. Dia lahir di kota
Subulussalam, sebuah kota kecil di Aceh. Ajakan saya buat pergi ke Lombok
diiyakan olehnya. Ketika dia bilang mau ngapain disana, saya hanya menjawab
main ke rumah uwa (kakak ibu saya), nanti kita menginap disana. Tanggal 16
Agustus 2014 dia usulkan menjadi hari keberangkatan, saya langsung
menyetujuinya seraya berkata “Kumpul uang dari sekarang ya”.
Saya teriak didalam
hati, YES, dia mau gue ajak ke Lombok, tinggal kumpulin duit nih.
Hari terus terlewati,
bulan berganti bulan. Sebenarnya saya masih ingat detail rangkaian kejadian
sepekan sebelum keberangkatan, tapi kalau saya ceritakan disini, nanti malah
terlalu panjang.
Aku tiba di Jogja pada Kamis 14 Agustus 2014 sore.
Keesokan harinya aku berencana main ke asrama daerah tempat dia tinggal di
Jogja, daerah pasar Kranggan. Tapi ternyata Jum’at siang dia main ke kos saya
dan menceritakan kondisi hpnya, lalu menanyakan jam berapa besok berangkat, yah
meskipun saya mau berangkat habis shubuh, dia mengusulkan jam 9 atau 10 pagi
saja. Saya bilang ok, jam 10.
Kita sepakat melewati jalur selatan. Ternyata dia punya
peta mudik yang dia bilang dikasih pas isi bensin di SPBU, meskipun di tengah
perjalanan, peta tersebut hilang entah kemana, mungkin terjatuh.
Isi
bensin pertama di SPBU bundaran Wonosari. Lalu setelah melewati kota Pacitan,
kita sholat Dzuhur.![]() |
| plang masjid yang masih termasuk kabupaten Pacitan |
Tidak puas kalau cuma
melihat cerobong, kita pun berhenti lagi untuk melihat seperti apa sih bangunan
PLTU tersebut.
Setengah jam setelahnya, kami sempat berhenti bebertapa menit, membiarkan parade konvoi sepeda hias dari arah berlawanan melewati jalan beraspal tersebut.
Jika pembaca bergumam,
“Mengapa tidak lanjut terus saja?” Maka
jawabannya sebenarnya saya baru pertama kali melihat konvoi sepeda hias
tersebut, jadi terasa sayang kalau melewatkannya, tidak ada salahnya lihat
sebentar, lagipula sepeda-sepeda tersebut ada yang berjalan zig-zag dan mengambil hampir seluruh
jalan, kira-kira ¾nya.
Dia mengusulkan supaya
tidak melakukan perjalanan pada malam hari, saya tidak merasa keberatan dengan
usulannya jadi kami tidur pada malam itu di masjid alun-alun kota Blitar.
Keesokan harinya,
selepas sholat shubuh dan setelah mengambil KTP saya yang ditaruh di kantor DKM
Masjid sebagai jaminan, kami melanjutkan perjalanan, jalanan masih sepi tapi
aku mengatur laju motor supaya bisa melihat dengan jelas plang-plang penunjuk
jalan.
Tidak lama setelah bergantian mengendarai motor,
aku melihat sebuah masjid ketika berhenti di perempatan lampu merah di daerah
Kepanjen sekitar jam setengah delapan, segera saya mengeluarkan hp dari kantong
celana dan menyuruh Raja supaya pelan selepas lampu hijau menyala, hasilnya
tidaklah jelek meskipun dengan kamera hp dan laju motor sekitar 20 km/jam.
![]() |
| Masjid Agung Baiturrahman, Kepanjen, Malang |
Aku masih ingat kami berdua
sama-sama merasa cuaca di Malang cukup dingin dibanding daerah-daerah
sebelumnya, padahal kala itu matahari sudah cukup terik.
Selanjutnya, kami melintasi jalan
berbelok agak kiri ke arah Lumajang sesuai plang penunjuk jalan, bukan belok
kanan ke arah Tempursari.
Pukul 16.30 kami tiba di
pelabuhan Ketapang di Banyuwangi untuk menyebrang ke pulau Bali menggunakan
kapal Ferry. Saya sempat mencari ATM dan melakukan tarik tunai karena kupikir
akan mahal nih kita menaiki motor ke atas kapal, sedangkan uangku juga sudah
menipis. Oiya aku sempat kaget ketika saat mbak Titin, petugas loket yang
namanya persis nama panggilan temenku yang berasal dari Bau-Bau, Buton,
menyebutkan nominal Rp 19.000 untuk tiket motor, itu sudah termasuk kami yang
berjumlah dua orang. Sambil mengeluarkan uang dari kantong celana, aku berkata
dalam hati “Wuih murah juga tiketnya.”![]() |
Suasana saat hendak memasuki kapal Ferry
|
Bersambung… Nanti saya
lanjut kok menulisnya (ga tau kapan), maklum lagi sibuk. Haha
Tunggu saja postingan
saya berikutnya, mudah-mudahan ga terlalu lama supaya kalian ga terlalu
penasaran gimana lanjutannya.
See ya !






Tidak ada komentar:
Posting Komentar