Rabu, 28 Oktober 2015

(“Hanya”) 7 hari di atas motor

         Apa nih 7 hari? Naik motor kemana? Pertanyaan yang mungkin saja ada di benak pembaca yang nyasar ke blog saya. Kalau penasaran sih seharusnya Anda terus membaca, sampai habis (kalau perlu).

           Maksud kata Hanya yang tanda kutip itu bagi saya bermakna kejadian ini yaitu berkendara sepeda motor terlama yang pernah saya alami, ya meskipun belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman orang-orang yang sampai keliling dunia menunggangi sepeda motor, makanya saya memakai kata hanya pada kalimat judul.


          Sekitar 1,5 jam tahun yang lalu, April 2014, aku mengajak seorang Raja, ya nama di kartu identitasnya memang Raja Kombih, jadi panggilannya Raja. Dia lahir di kota Subulussalam, sebuah kota kecil di Aceh. Ajakan saya buat pergi ke Lombok diiyakan olehnya. Ketika dia bilang mau ngapain disana, saya hanya menjawab main ke rumah uwa (kakak ibu saya), nanti kita menginap disana. Tanggal 16 Agustus 2014 dia usulkan menjadi hari keberangkatan, saya langsung menyetujuinya seraya berkata “Kumpul uang dari sekarang ya”. 
Saya teriak didalam hati, YES, dia mau gue ajak ke Lombok, tinggal kumpulin duit nih.
        Hari terus terlewati, bulan berganti bulan. Sebenarnya saya masih ingat detail rangkaian kejadian sepekan sebelum keberangkatan, tapi kalau saya ceritakan disini, nanti malah terlalu panjang.
           Aku tiba di Jogja pada Kamis 14 Agustus 2014 sore. Keesokan harinya aku berencana main ke asrama daerah tempat dia tinggal di Jogja, daerah pasar Kranggan. Tapi ternyata Jum’at siang dia main ke kos saya dan menceritakan kondisi hpnya, lalu menanyakan jam berapa besok berangkat, yah meskipun saya mau berangkat habis shubuh, dia mengusulkan jam 9 atau 10 pagi saja. Saya bilang ok, jam 10.
            Kita sepakat melewati jalur selatan. Ternyata dia punya peta mudik yang dia bilang dikasih pas isi bensin di SPBU, meskipun di tengah perjalanan, peta tersebut hilang entah kemana, mungkin terjatuh.
          Isi bensin pertama di SPBU bundaran Wonosari. Lalu setelah melewati kota Pacitan, kita sholat Dzuhur.
plang masjid yang masih termasuk kabupaten Pacitan
          Selang 5 menit melanjutkan perjalanan, kita melihat view yang cukup cakep di sebelah kanan, langsung ke pinggir, dan mengambil gambar (gambar kiri). Lalu 1,5 jam berlalu dan sepertinya untuk pertama kali saya melihat Pembangkit Listrik Tenaga Uap ( PLTU ) (gambar kanan).


         Tidak puas kalau cuma melihat cerobong, kita pun berhenti lagi untuk melihat seperti apa sih bangunan PLTU tersebut.

            
        
           Setengah jam setelahnya, kami sempat berhenti bebertapa menit, membiarkan parade konvoi sepeda hias dari arah berlawanan melewati jalan beraspal tersebut.
Jika pembaca bergumam, “Mengapa tidak  lanjut terus saja?” Maka jawabannya sebenarnya saya baru pertama kali melihat konvoi sepeda hias tersebut, jadi terasa sayang kalau melewatkannya, tidak ada salahnya lihat sebentar, lagipula sepeda-sepeda tersebut ada yang berjalan zig-zag dan mengambil hampir seluruh jalan, kira-kira ¾nya.
Dia mengusulkan supaya tidak melakukan perjalanan pada malam hari, saya tidak merasa keberatan dengan usulannya jadi kami tidur pada malam itu di masjid alun-alun kota Blitar.
Keesokan harinya, selepas sholat shubuh dan setelah mengambil KTP saya yang ditaruh di kantor DKM Masjid sebagai jaminan, kami melanjutkan perjalanan, jalanan masih sepi tapi aku mengatur laju motor supaya bisa melihat dengan jelas plang-plang penunjuk jalan.

          Tidak lama setelah bergantian mengendarai motor, aku melihat sebuah masjid ketika berhenti di perempatan lampu merah di daerah Kepanjen sekitar jam setengah delapan, segera saya mengeluarkan hp dari kantong celana dan menyuruh Raja supaya pelan selepas lampu hijau menyala, hasilnya tidaklah jelek meskipun dengan kamera hp dan laju motor sekitar 20 km/jam.
Masjid Agung Baiturrahman, Kepanjen, Malang
Aku masih ingat kami berdua sama-sama merasa cuaca di Malang cukup dingin dibanding daerah-daerah sebelumnya, padahal kala itu matahari sudah cukup terik.
Selanjutnya, kami melintasi jalan berbelok agak kiri ke arah Lumajang sesuai plang penunjuk jalan, bukan belok kanan ke arah Tempursari.
           Pukul 16.30 kami tiba di pelabuhan Ketapang di Banyuwangi untuk menyebrang ke pulau Bali menggunakan kapal Ferry. Saya sempat mencari ATM dan melakukan tarik tunai karena kupikir akan mahal nih kita menaiki motor ke atas kapal, sedangkan uangku juga sudah menipis. Oiya aku sempat kaget ketika saat mbak Titin, petugas loket yang namanya persis nama panggilan temenku yang berasal dari Bau-Bau, Buton, menyebutkan nominal Rp 19.000 untuk tiket motor, itu sudah termasuk kami yang berjumlah dua orang. Sambil mengeluarkan uang dari kantong celana, aku berkata dalam hati “Wuih murah juga tiketnya.”

Suasana saat hendak memasuki kapal Ferry

Bersambung… Nanti saya lanjut kok menulisnya (ga tau kapan), maklum lagi sibuk. Haha

Tunggu saja postingan saya berikutnya, mudah-mudahan ga terlalu lama supaya kalian ga terlalu penasaran gimana lanjutannya.
See ya !

Tidak ada komentar: